Saturday, May 26, 2012

#33

Aku tak tahu apa yang kaurasakan
Apakah itu kagum, yang menjadikanmu tersipu malu tiap kali kaudengar namanya disebut?
Apakah itu takut, yang menjadikanmu marah kala asa dan fakta bersinggungan?
Apakah itu cinta, yang menjadikanmu utuh layaknya kepingan puzzle yang saling menemukan?
Aku tidak tahu, wahai kamu yang dimabuk apapun
Tapi hatimu yang tersesat di palung terdalam tahu
Ia telah lama tahu



(25 Mei 2012, untuk kakakku tersayang)

#32

Rasa itu hilang sudah
Tahunan kau didekap
Hingga nyaris gila kau dibuatnya
Kini kausadari arti cinta yang sesungguhnya
Cinta adalah menerima
Cinta adalah melepaskan
Dan cintamu kepadanya telah bertransformasi
Indah, namun tak lagi menyiksa
Kamu adalah pungguk
Dan ia..
Bulan yang tak ingin kaunikmati

I finally met them.

Hai. Lama tidak bertemu. Izinkan saya menyapa teman-teman sekalian :)
Hari ini, 26 Mei 2012, saya resmi menyandang gelar Alumni SMAN 71. Saya lulus Ujian Nasional. Nilainya? Belum tahu, belum diumumkan oleh pihak sekolah. Saya berharap, saya mendapatkan hasil yang memuaskan. Amin. Dan diterima di perguruan tinggi yang diinginkan. Amin lagi.

Kemarin adalah salah satu momen terbaik dalam hidup saya. Saya bertemu dengan artis idola saya. Saya tahu dalam hidup kita semua pasti punya orang-orang yang dijadikan teladan, motivator, ataupun inspirasi, begitupun saya. Saya sangat bersyukur atas hidup ini. Hidup ini, jika dihayati dengan benar, indah adanya. Saya perkenalkan dua orang yang kini menempati bagian kecil yang penting dalam hati saya.

Dewi Lestari dan Reza Gunawan.

Pasangan suami-istri yang sangat inspiratif, mempesona, menakjubkan, dan sejenisnya, dan sebagainya. Bagi saya, pengenalan akan mereka adalah rancangan indah yang penuh dengan misteri. Saya banyak belajar dari mereka, bagaimana cara menghargai hidup, menghargai alam, mencintai hidup, mencintai alam, terlebih, mencintai diri saya apa adanya. Bertemu dengan mereka adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Saya amat sangat bahagia. Mereka lebih ramah daripada yang saya bayangkan. Mereka amat patut dikagumi. Saya adalah orang yang paling beruntung karena mempunyai kesempatan untuk mengenal mereka.

Dewi Lestari, saya, dan Reza Gunawan
Itulah mereka. Semoga suatu saat saya bisa menjadi seperti Dewi Lestari, dan suatu saat bisa mempunyai suami seperti Reza Gunawan. Sekian. Salam.

Friday, April 13, 2012

#31

Andaikan rasa tak lagi berkuasa
Aku tak lagi nelangsa
Andaikan cinta tak lagi menyita
Aku tak lagi menderita
Andaikan suka tak lagi menyapa
Aku tak lagi nestapa
Andaikan kamu tak lagi di sini
Aku tak lagi kini

Thursday, April 12, 2012

#30

Kamu mati-matian berjuang menembus batas. Tapi ketika batas itu hadir di depan mata, kamu ingin kembali ke titik dimana semua bermula.

Kamu ingin kembali menyusuri momen yang kamu langkahi tanpa permisi.

Dan, kamu pun menyesali semua waktu yang kamu lalui tanpa prosesi, tanpa apresiasi.

Friday, March 23, 2012

#29

Belum pernah aku mengagumi begini dalam. Menempatkanku dalam kondisi yang sama sekali baru. Pengenalanku akanmu adalah pengenalan akan hidup. Begitu banyak hal yang kauungkapkan, begitu banyak makna yang kutemukan dalam hadirmu.

Belum pernah aku mengagumi begini dalam. Menemuimu adalah impian terbesarku. Walau kutahu, saat mimpi itu terwujud, aku hanya bisa diam. Mematung seribu bahasa. Memandangi sosokmu yang nyata, tak lagi sekadar imajinasi atau lamunan siang bolongku.

Belum pernah aku mengagumi begini dalam. Menuliskan kata untukmu hingga becek mata ini. Entah karena ketidakmampuanku merengkuhmu, atau karena rasa yang kian memuncak.

Bagiku, kamu adalah Dewi dalam arti yang sesungguhnya. Inspiratif, sempurna, dan tak tersentuh.

Saturday, March 10, 2012

#28

Kamu merasakannya, lagi dan lagi, terus..menerus.

Kamu tahu apa yang menantimu. Yang tidak kamu tahu hanyalah ia; alasan kuatmu untuk pergi, alasan kuatmu untuk bertahan. Seimbang. Keduanya begitu menggoda. Mana yang harus kamu pilih? Ketidaktahuan menyelimutimu.

Lagi-lagi kamu terjebak tak berdaya. Atas nama Tuhan, keluarga, teman, semesta... Kamu memilih untuk diam. Biarkan ia pergi dan tinggal semaunya. Biarkan kamu menjadi anak buahnya dan menuruti semua kehendaknya. Biarkan ia mengalir walau kamu tak tahu kemana ia akan bermuara.

7 (atau bahkan 9) tahun bukan waktu yang singkat, dan proses penyembuhanmu bukan perkara mudah.

Lagi-lagi kamu terjebak tak berdaya. (Mengapa kamu selalu jatuh ke lubang yang sama?)

Rasa ini bukan yang patut kamu pelihara. Karena ia fana.

Monday, March 5, 2012

Hidup Ini Indah

Hidup ini indah, karena hidup selalu berubah.

Bayangkan jika hidup terpaku pada satu titik, hidup yang statis, hidup yang tersusun rapi, hidup yang berpola, hidup yang melulu ini dan itu. Coba renungkan sejenak; adakah keindahan di sana? Pada awalnya, ya. Keteraturan menciptakan keindahan. Kita bisa berbangga hati, kita termasuk orang yang pandai mengatur hidup, termasuk dalam jajaran orang yang perfeksionis. Tapi pada akhirnya, tidak, yang ada hanyalah kejenuhan. Bukankah hidup yang demikian sama dengan sebuah mesin yang bekerja karena program, bukan karena kemauannya?

Kita perlu menyadari, bahwa hidup perlu perubahan, hidup perlu pergerakan. Hidup ini bagai zat; cair, padat, gas. Hidup bisa membeku, bisa juga mencair; hidup bisa menguap, bisa juga mengembun; hidup bisa mengkristal, bisa juga menyublim; tergantung semesta, dan tentunya, Sutradara Besar Nan Agung. Kita perlu sekali-kali, atau bahkan berkali-kali, keluar dari kotak, dimana kita bisa merasakan hidup yang hidup. Hidup ini hanya mampir sejenak, jadi nikmati saja selama ada waktu.

Hidup ini indah, karena hidup adalah sebuah proses belajar. Belajar berbagi. Belajar menolong. Belajar sabar. Belajar mengagumi. Belajar ikhlas. Belajar...kasih. Belajar bersama hidup. Belajar hidup. Hidup adalah guru yang hadir secara alamiah. Kenali ia, ikuti ajarannya.

Mari kita mengamati hidup. Cukup amati. Begitu banyak hal yang luput karena kita terbiasa mengabaikan. Padahal indera kita diciptakan untuk lebih dari sekedar mengamati.

Mari kita merasakan hidup. Rasakan dalam-dalam. Betapa hidup adalah karunia tak terkira. Rasakan hidup dan nikmatnya, begitu banyak hal yang patut kita syukuri.

Mari kita menerima hidup. Susah, senang, sedih, nelangsa, kecewa, dan semua hal lain yang disebabkan oleh hidup. Dengan menerima hidup kita berdamai dengan semesta.

Mari kita melepaskan hidup. Apapun yang kita terima, lambat laun akan berputar. Semudah kita menerima, semudah itu pula sebaiknya kita lepaskan. Dengan melepaskan, kita akan menerima ganti yang lebih baik.

Hidup ini indah, karena hidup begini adanya.

Amati, rasakan, terima, lepaskan.


(Sedikit dari banyaknya catatan tentang hidup yang terkesan kurang hidup.. :p)

Tuesday, February 14, 2012

#27

Seperti kehidupan yang telah terencana dengan baik, demikian kematian.

Hidup adalah awal dari apa yang telah, sedang, dan akan ada;
sedang mati adalah awal dari segala yang awal.